Cerita Rakyat Indonesia

Cerita Rakyat Indonesia “Aji Saka” Sang Penemu Aksara Jawa

Cerita Rakyat Indonesia, Ajisaka, Cerita Ajisaka, Cerita Ajisaka Lengkap, Ajisaka Aksara Jawa, Ajisaka Bahasa Jawa

Seperti yang kita tahu cerita rakyat Ajisaka merupakan cerita rakyat dari yang berhubungan dengan sejarah tanah Jawa. Banyak versi yang mengulas tentang cerita rakyat Ajisaka, ada yang mengatakan cerita Ajisaka hanya mitos dan ada pula yang menurut mereka, ini merupakan legenda, sehingga muncul kerajaan pertama di Pulau Jawa dan terciptanya Aksara Jawa.
Kisah Ajisaka yang lengkap menceritakan tentang bagaimana peradaban datang ke Pulau Jawa, dibawa oleh raja Jawa pertama yang legendaris yang bernama Aji Saka, dan kisah mitos tentang asal mula aksara Jawa. Para dalang sering membawakan cerita wayang Ajisaka saat pegelaran Budaya,
Meskipun Aji Saka dikatakan sebagai pembawa peradaban di Jawa, kisah Aji Saka, menerima beberapa keberatan dan bantahan dari sumber-sumber sejarah lainnya. Menurut catatan Cina, kerajaan Jawa didirikan pada 65 SM, atau 143 tahun sebelum kisah Aji Saka dimulai. Kisah Saka atau Aji Saka adalah kisah Neo Jawa. Kisah ini belum ditemukan relevan dalam teks Jawa Kuno.
Kisah ini dianggap sebagai Alegori masuknya orang India ke Jawa. Mengacu pada informasi dinasti Liang , kerajaan Jawa dibagi menjadi dua: kerajaan pra-Hindu dan kerajaan pasca-Hindu, yang dimulai pada 78 Masehi.

Asal Usul Ajisaka

Aji Saka dikatakan berasal dari Bhumi Majeti, sebuah lokasi mitos di Jambudvipa ( India kuno ). Namanya berasal dari kata Jawa saka atau soko yang berarti esensial, penting, atau dalam hal ini primordial. Dengan demikian nama Aji Saka secara harfiah berarti “raja purba”. Interpretasi yang lebih modern mendapatkan namanya dari Saka atau Satrap Barat Indo-Scythian dari Gujarat.
Dalam kedua kasus tersebut, legenda tersebut dipandang melambangkan kedatangan Hindu – Budha Dharmik pada peradaban di pulau Jawa. Legenda juga menyatakan bahwa Aji Saka adalah penemu tahun Saka, atau setidaknya raja pertama yang memprakarsai adopsi sistem kalender Hindu ini di Jawa.
Kerajaan Medang Kamulan mungkin terkait dengan Kerajaan Medang yang bersejarah. Kisah Aji Saka mengalahkan raja pemakan manusia juga telah ditafsirkan sebagai jatuhnya penguasa lokal yang tidak populer, bangkitnya kanibalisme menjadi peradaban, dan mungkin juga perlawanan terhadap kepercayaan India oleh kelas penguasa.

Alur Cerita Ajisaka

Dahulu kala, Segera setelah dewa menciptakan dan memantapkan pulau Jawa ke posisi tempatnya sekarang, pulau itu menjadi layak huni. Namun, ras pertama yang memerintah pulau itu adalah ras denawa (iblis raksasa) yang menekan semua makhluk dan memakan manusia. Kerajaan pertama di Jawa adalah Medang Kamulan dan raja itu adalah Raja Raksasa Dewata Cengkar, raja negara yang kejam yang memiliki kebiasaan memakan daging manusia bangsanya sendiri.
Kegemaran sang raja memakan manusia ini karena sang patih kerajaan setiap harinya menyuguhkan daging manusia dari penduduk Kerajaan Medang Kawulan. Karena ketakutan akan dimangsa oleh sang raja, banyak penduduk Medang kamulan mengungsi ke dalam hutan dan desa-desa di kerajaan tetangga. Usaha rakyat Medang Kamulan ini hanya untuk mencari kehidupan yang tentram dan terhindar dari ketakutan akan sang raja mereka.
Di sebuah desa kerajaan tetangga tepatnya di Dusun Medang Kawit ada seorang pemuda yang sangat sakti dan baik hati, pemuda ini bernama  Aji Saka. Suatu ketika ada segerombolan penyamun menyerang dan memukuli seorang bapak tua, Ajisaka yang melihat kejadian tersebut segera menolong bapak tua itu, para penyamun yang tak bisa menandingi kesaktian Ajisaka akhirnya lari terbirit-birit meninggalkan mereka. Rupanya Sang bapak tua itu ternyata pengungsi dari kerajaan Medang kamulan, Bapak tua tersebut menceritakan tentang kebuasan Prabu Dewata Cengkar. Karena tergerak hatinya Aji Saka berniat menolong rakyat Medang Kamulan. Dengan mengenakan sorban di kepala Aji Saka berangkat ke Medang Kamulan.
Aji Saka pun akhirnya tiba di kerajaan Medang Kamulan.
Di istana, Raja Prabu Dewata Cengkar sedang murka karena Patih Jugul Muda karena tidak membawa korban untuk santapan sang raja.
Aji Saka  masuk ke dalam istana, menghadap Prabu Dewata Cengkar dan menyerahkan diri untuk dijadikan santapan buat sang Prabu tetapi dengan syarat Ajisaka memperoleh tanah seluas sorban yang dipakainya.
Karena sudah tidak sabar untuk menyantap tubuh Ajisaka, syarat yang diajukan Ajisaka langsung di iyakan oleh sang Prabu, mereka kemudian mengukur tanah sesuai permintaan Ajisaka, tak disangka sorban itu terus memanjang, rupanya itu sorban ajaib sehingga luasnya bisa melebihi luas kerajaan Medang Kamulan.
Sang Prabu marah karena sorban Ajisaka terus memanjang, Ketika Prabu Dewata Cengkar sedang marah, sorban Aji Saka melilit kuat di tubuh sang Prabu. Prabu Dewata Cengkar dibuang Aji Saka dan jatuh ke laut selatan kemudian hilang ditelan ombak.
Aji Saka kemudian dinobatkan menjadi raja Medang Kamulan. Karena Ajisaka seorang yang bijaksana dan suka menolong rakyatnya. Kerajaan Medang Kamulan mencapai masa keemasan, jaman dimana rakyat hidup tentram, damai dan sejahtera.

Kisah Anak Ajisaka

Sementara itu, seorang wanita dari desa Dadapan menemukan sebutir telur. Dia meletakkan telur dalam dirinya lumbung ( beras gudang ). Setelah periode tertentu, telur menghilang, dan bukannya ular ditemukan di lumbung padi. Penduduk desa ingin membunuh ular itu, tetapi ular itu berkata, “Aku putra Aji Saka, bawa aku padanya.” Aji Saka memberi tahu ular itu bahwa dia akan diakui sebagai putranya jika dia bisa membunuh Bajul Putih di Laut Selatan. Setelah pertempuran badai yang panjang di mana kedua belah pihak menunjukkan kekuatan fisik dan menunjukkan kemampuan bertarung yang terampil, ular itu mampu membunuh Bajul Putih.
Seperti yang telah dijanjikan, ular itu diakui sebagai putra Aji Saka dan dia diberi nama, Jaka Linglung (bocah bodoh). Di istana Jaka Linglung dengan rakus memakan hewan peliharaan domestik istana. Dia dihukum oleh Raja, mengusirnya untuk tinggal di Hutan Pesanga. Dia diikat dengan erat sampai dia tidak bisa menggerakkan kepalanya. Dia diperintahkan hanya untuk memakan makanan yang jatuh ke mulutnya.

Cerita Rakyat Indonesia, Ajisaka, Cerita Ajisaka, Cerita Ajisaka Lengkap, Ajisaka Aksara Jawa, Ajisaka Bahasa Jawa

Suatu hari, sekelompok sembilan anak lelaki desa sedang bermain-main di Hutan itu. Tiba-tiba hujan turun deras. Mereka harus menemukan tempat berlindung, untungnya ada gua. Hanya delapan anak lelaki yang masuk ke dalam gua karena yang seorang menderita penyakit kulit yang sangat buruk, bau penyakit kulit pada tubuhnya sangat menyengat dan dia kotor. Kedelapan anak lain tidak mengijinkan anak yang berpenyakit kulit ini untuk masuk juga kedalam gua. Jadi dia harus tetap berada di luar gua. Tiba-tiba, gua itu hancur berantakan. Delapan anak laki-laki menghilang, hanya anak yang tinggal di luar yang aman. Gua itu sebenarnya adalah mulut Jaka Linglung.

Asal Mula Aksara Jawa

Sementara itu, setelah menjadi penguasa kerajaan Medang Kamulan, Aji Saka mengirim utusan kembali ke rumah untuk memberi tahu pelayannya yang setia Dora dan Sembodo, untuk membawa pusoko (pusaka) ke Jawa dan mengirim mereka ke Aji Saka. Kemudian Dora datang ke Sembodo dan memberi tahu Aji Saka. Sembodo menolak karena dia ingat dengan jelas perintah Aji Saka sebelumnya: tidak seorang pun kecuali Aji Saka yang diizinkan mengambil pusoko.
Dora dan Sembodo masing-masing merasa curiga terhadap yang lain, dan saling curiga mencoba mencuri pusoko. Jadi mereka saling bertarung sampai mati. Aji Saka ingin tahu mengapa perlu waktu lama bagi keduanya untuk datang ke Jawa; akhirnya dia pulang sendiri, hanya untuk menemukan mayat dua pelayannya yang setia dan kesalahpahaman yang mengerikan di antara mereka.
Untuk mengingat tindakan setia kedua hambanya, maka membuat puisi dari Alfabet Jawa. aksara jawa itu sendiri membentuk puisi, dan pangram yang sempurna, yang terjemahan baris-demi-barisnya adalah sebagai berikut :

Cerita Rakyat Indonesia, Ajisaka, Cerita Ajisaka, Cerita Ajisaka Lengkap, Ajisaka Aksara Jawa, Ajisaka Bahasa Jawa

Hana caraka Ada dua utusan

data sawala (Mereka) memiliki permusuhan (antara satu sama lain)
padha jayanya (Mereka) sama-sama kuat (dalam pertarungan)
maga bathanga Berikut adalah Inilah mayat mereka.
secara terperinci:
hana / ana = ada / sedang
caraka = utusan (sebenarnya, ‘orang yang setia dan dipercaya oleh seseorang’)
data = memiliki / memiliki
sawala = perbedaan (mengenai suatu masalah)
padha = sama, sama
jayanya = ‘kekuatan mereka’ , ‘jaya’ bisa berarti ‘kemuliaan’ juga
maga = ‘di sini’
bathanga = mayat
Asal mula Aksara Jawa bukan mitologi agar mudah dipahami, Kebenaran sejati itu selalu melampaui batasan dari aksara. Meminta sebuah aksara untuk mempertanggung jawabkan kebenaran sejati itu jelas tidak mungkin.
Kita Sebagai orang Awam cukup memahami dan mengambil hikmah dari cerita rakyat Ajisaka yang diyakini sebagai awal mula peradaban di Pulau Jawa. Terima Kasih.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button
× How can I help you?