PendidikanSejarah Indonesia

PERANG BUBAT YANG MENGGETARKAN SEJARAH

PERANG BUBAT YANG MENGGETARKAN SEJARAH

https://www.rakyatberbagi.com/2020/07/perang-bubat-yang-menggetarkan-sejarah.html
Sejarah Indonesia mengenai perang Bubat ini hanya sepenggal kisah dari kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara, kisah sejarah Indonesia ini berhubungan dengan Kerajaan Majapahit, yang mana kerajaan ini sangat terkenal di negeri kita Indonesia dan kerajaan ini mengangkat nama nusantara kita, karena dari kerajaan ini hampir sebagian besar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sekarang ini, dan sebagian wilayah negara tetangga kita berada dibawah kekuasaan kerajaan Majapahit.
Kisah sejarah Indonesia mengenai perang Bubat, diambil dari Kitab Pararaton atau Kitab Raja-raja Jawa, Kidung Sunda dan Kidung Sundayana atau perjalanan kerajaan Sunda yang ditemukan di Bali.
Pada abad ke-20, CC Berg, sejarawan Belanda, menerbitkan teks dan terjemahan Kidung Sunda (1927) yang mengurai Peristiwa Bubat dan versi yang lebih pendek Kidung Sundayana (1928). Dalam Penulisan Sejarah Jawa, Berg menyebut Kidung Sunda mengandung fakta-fakta sejarah karena kejadian itu diperkuat tulisan Sunda kuno. Berg pun menyimpulkan, “dalam Kidung Sunda kita harus melihat endapan sastra dari cerita-cerita rakyat yang turun-temurun dan dalam fragmen Pararaton yang bertema sama”. 
Perang Bubat merupakan perang yang terjadi pada tahun 1279 Saka atau 1357 masehi pada abad ke-14, yaitu pada masa pemerintahan raja Majapahit Hayam Wuruk. Perang ini terjadi karena perselisihan antara Mahapatih Gajah Mada dari Majapahit dengan Prabu Maharaja Linggabuana dari kerajaan Sunda di Pesanggrahan Bubat. Yang mengakibatkan tewasnya seluruh rombongan Sunda.
https://www.rakyatberbagi.com/2020/07/perang-bubat-yang-menggetarkan-sejarah.html
Berikut ini adalah kronologi Perang Bubat selengkapnya. Perang Bubat berawal dari niat upaya Prabu Hayam Wuruk yang ingin memperistri putri dari negeri Sunda Galuh yang bernama Dyah Pitaloka Citraresmi. Konon ketertarikan Prabu Hayam Wuruk terhadap putri tersebut karena beredarnya sebuah lukisan sang putri di daerah Majapahit, yang dilukis secara diam-diam  oleh seorang seniman Pada masa itu, bernama Ki Sungging Prabangkara.
Menurut Catatan sejarah Pajajaran oleh beberapa sejarawan niat penikahan itu adalah untuk mempererat tali Persaudaraan yang telah lama diputus antara Majapahit dan Sunda.
Raden Wijaya yang merupakan seorang raja pendiri Kerajaan Majapahit dianggap keturunan Sunda dari Dyah Lembu Tal atau Dyah Singamurti dan suaminya yaitu Rakeyan Jayadharma (Prabu Sri Pamekas) yang seorang raja dari kerajaan Sunda.
Atas restu dari keluarga kerjaan majapahit Prabu Hayam Wuruk mengirimkan surat kehormatan kepada maharaja LinggaBuana, untuk melamar Dyah Pitaloka, upacara pernikahan Rencananya akan dilangsungkan di Majapahit. Namun dari pihak dewan kerajaan kerajaan Sunda sendiri sebenarnya keberatan, terutama Mangkubumi Suradipati Hyang Bunisora, ini karena melanggar adat yang belaku di Nusantara pada saat itu, tidak pantas pihak Pengantin perempuan datang ke pihak lelaki pengantin. Tetapi Raja Lingga Buana memutuskan untuk tetap berangkat ke Majapahit karena rasa Persaudaraan yang sudah ada dari garis para leluhur kedua kerajaan tersebut.
Raja Lingga Buana berangkat bersama rombongan Sunda ke Majapahit dan diterima dengan baik. Kemudian ditempatkan di Pesanggrahan Bubat. Raja Sunda datang ke bubat bersama permaisuri dan Putri Dyah Pitaloka dengan diiringi sedikit prajurit. Menurut kidung sundayana timbul niat Mahapatih Gajah Mada untuk menguasai kerajaan Sunda karena gajahmada ingin memenuhi Sumpah Palapa yang dibuatnya pada masa sebelum hayam wuruk naik tahta. sebab dari berbagai kerajaan di nusantara yang telah ditaklukan Majapahit hanya kerajaan Sunda yang belum dikuasai. sesuai keinginan tersebut Gajah Mada membuat alasan untuk menganggap bahwa kedatangan rombongan sunda di Pesanggrahan Bubat adalah bentuk penyerahan diri kerajaan Sunda kepada Majapahit. Gajah Mada mendesak prabu Hayam Wuruk untuk menerima Diah Pitaloka bukan sebagai pengantin tetapi sebagai tanda takluk Sunda dan pengakuan superioritas Majapahit.
Hayam wuruk sendiri disebutkan bimbang atas permasalahan tersebut, mengingat Gajahmada adalah Mahapatih yang sangat diandalkan majapahit pada saat itu.
Kemudian terjadilah insiden dan perselisihan antara utusan delegasi Lingga Buana dengan gajahmada. Perselisihan ini diakhiri dengan dimaki-maki-nya gajahmada oleh utusan kerajaan sunda yang terkejut bahwa kedatangan mereka hanya untuk memberikan tanda takluk dan mengakui superioritas Majapahit, bukan karena undangan yang sebelumnya. Namun Gajah Mada tetap dalam pendiriannya. Sebelum Hayam Wuruk memberikan putusannya Gajah Mada telah mengerahkan pasukan Bhayangkara ke Pesanggrahan Bubat dan mengancam Linggabuana untuk mengakui superioritas Majapahit.
Demi mempertahankan kehormatan sebagai ksatria Sunda, Lingga Buana menolak tekanan itu. Sehingga terjadilah peperangan yang tidak seimbang antara Gajah Mada dengan pasukannya yang berjumlah besar melawan Lingga Buana dengan Pasukan pengawal kerjaan yang berjumlah kecil dan para mentri kerajaan yang ikut saat itu, peristiwa itu berakhir dengan gugurnya Lingga Buana, para menteri, pejabat kerajaan beserta segenap keluarga kerajaan Sunda. Sejarah menyebutkan Sang Putri Dyah Pitaloka dengan hati berduka melakukan bela Pati, bunuh diri demi membela kehormatan kerajaannya. Tindakan putri dyah pitaloka ini mungkin diikuti oleh segenap perempuan-perempuan sunda yang masih tersisa baik bangsawan atau pun abdi pelayan kerajaan.
https://www.rakyatberbagi.com/2020/07/perang-bubat-yang-menggetarkan-sejarah.html
Sebuah riwayat mengatakan bahwa Hayam Wuruk meratapi kematian putri Dyah pitaloka, Hayam Wuruk menyesali tindakan ini dan mengirim utusan Bagi Mangkubumi Suradipati Hyang Bunisora yang saat ini menjadi pejabat sementara raja Sunda serta menyampaikan bahwa semua peristiwa ini akan dimuat dalam sundayana agar dapat diambil hikmahnya.
Akibat peristiwa bubat ini dikatakan dalam kitab tersebut bahwa hubungan hayam wuruk dengan Gajah Mada menjadi renggang. Gajah Mada sendiri menghadapi tantangan, kecurigaan dan kecaman dari pejabat dan bangsawan Majapahit karena tindakannya dianggap ceroboh dan gegabah. Dia dianggap terlalu berani atau lancang dengan tidak mengindahkan keinginan dan perasaan sang raja Hayam Wuruk. Peristiwa yang penuh kemalangan ini pun menandai mulai turunnya pamor Gajahmada sebagai Mahapatih. karena kemudian Hayam Wuruk menganugerahinya tanah perdikan Madakaripura yang saat ini berada di Probolinggo.
Itulah sepenggal kisah sejarah yang memilukan di Nusantara kita ini
Namun, sama seperti Pararaton, sejumlah ahli meragukan teks-teks Sunda tersebut. Aminuddin Kusdi, sejarawan Universitas Negeri Surabaya, dalam “Aspek-Aspek Historis Pa Sunda (Perang Bubat 1357)” menyebut bahwa sebagai sumber sejarah, Kidung Sunda, merupakan sumber sekunder, bahkan tersier. Berbagai fakta sejarah di dalamnya tidak sesuai dengan sumber-sumber lain yang lebih kredibel seperti prasasti. Perlu diperhatikan pula bahwa pada abad ke-19, kurun waktu penulisan Kidung Sunda, merupakan masa munculnya beberapa karya sastra kontroversial.
Edi Sedyawati, Arkeolog dan sejarawan Indonesia, bahkan menyoroti peran pemerintah kolonial dalam memperkenalkan Peristiwa Bubat kepada khalayak. “Oleh pemerintah Belanda, Kidung Sunda dijadikan bahan ajar bagi siswa di Algemeene Middelbare School (AMS). Mengapa tidak menggunakan karya sastra yang lebih dikenal seperti Ramayana dan Bharatayudha. Ada kepentingan Belanda di dalamnya,” ujar Edi Sedyawati, mengaitkan terbitnya teks-teks Sunda tersebut yang dekat dengan peristiwa Sumpah Pemuda.
Maka, setelah ibukota kerajaan Majapahit, Pasunda-Bubat menjadi misteri berikutnya yang butuh dipecahkan. Karena peristiwa itu kadung tertanam dalam ingatan kolektif masyarakat.
Tetapi bagaimanapun juga merupakan masa lalu. Sekarang kita hidup di zaman yang berbeda, yang mana di zaman ini kita adalah satu yaitu bangsa Indonesia, bangsa yang terkenal akan kekayaan suku dan budayanya. untuk itu kita harus menjaga kesatuan dan persatuan bangsa kita.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button
× How can I help you?